Puasa Sunnah di Bulan Muharram


Posted on: 28 September 2017


 

 

 

Berikut ini disampaikan penjelasan puasa sunnah di bulan Muharram dan penjelasan tata caranya. Ada puasa tasua di tanggal 9 Muharram, dan puasa ayura di tanggal 10 Muharram. Selamat menunaikan puasa sunnah, baarokalloohufiikum.

Dasar puasa sunnah di bulan Muharram

Hadis 1

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل " رواه مسلم 
"Dari abu hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda : Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam" (HR Muslim)

Hadis 2

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun Alaihi).

Hadis 3

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, “(puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadis 4

بْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, "Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata, "Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram)." Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah wafat (HR Muslim)

Hadis 5

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا).
“Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- berkata: “Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda-: Berpuasalah kalian pada hari ke-10, dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah kalian sebelumnya atau sesudahnya”. (HR ahmad)

 

Hadis hadis di atas menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharram, khususnya di tanggal 10, dan dua tanggal yang mengiringinya, yakni 9 dan 11. Para ulama membuat urutan keutamaan berpuasa di hari hari tersebut sebagai berikut :

1. Berpuasa selama 3 hari tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Para ulama menyebutkan inilah tata cara puasa yang paling utama mengiringi hari asyuro. Sebab dengan puasa tiga hari itu berarti menggabungkan semua hadis yang ada tentang keutamaan puasa di bulan Muharram. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar dan Asy Syaukany. Ibnu Qudamah menambahkan bahwa ini juga bentuk kehati-hatian apabila ada perbedaan pendapat tentang penetapan awal bulan Muharram.

2. Berpuasa dua hari tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ini berdasarkan pada hadis-hadis yang paling sahih tentang puasa Muharram, yakni hadis-hadis tentang keutamaan puasa di tanggal 10 / asyura dan perintah rasul untuk menyelisihi yahudi dan nasrani dengan berniat berpuasa juga di tanggal 9 pada tahun depannya, meskipun ternyata beliau terlebih dahulu wafat.

3. Berpuasa dua hari tanggal 10 dan 11 Muharram

Ini berdasarkan pada hadis yang ke lima pada hadis di atas. Berpuasa di tanggal 10 dan 11 berarti sudah mendapatkan keutamaan puasa asyuro tanggal 10, dan sudah juga menyelisihi yahudi dan nasrani dengan menambahkan pada tanggal 11. Hanya saja, hadis ini memang ada catatan, dimana salah satu perawinya kurang kuat hafalannya, sehingga masuk kategori hadis dhoif. Tapi para ulama menyebutkan, dhoifnya hadis ini bukan termasuk kategori dhoif yang parah, karena tidak terkait dengan catatan moral (adalah) para perowinya.

4. Berpuasa di tanggal 10 saja

Tidak ada hadis dan petunjuk dari para ulama untuk berpuasa di tanggal 10 saja. Itulah sebabnya banyak yang menyebutkan bahwa makruh hukumnya jika berpuasa hanya di tanggal 10 saja, atau setidaknya itu dianggap menyelisihi sunnah. Walaupun tentu sah saja puasanya.

Wallahu alam

 

Catatan :
Di bulan muharram 1439 H ini ada perbedaan pendapat tentang jatuhnya tanggal satu Muharram. Menurut hisab, 1 Muharram jatuh pada Kamis, 21 September 2017, sedangkan menurut ruyah, karena hilal tidak terlihat, maka diberlakukan istikmal, sehingga 1 Muharram jatuh pada hari Jumat, 22 September 2017.

Bagi yang menggunakan hisab, maka tanggal 9 dan 10 Muharramnya adalah Jumat dan Sabtu, 29 -30 September 2017, sedangkan bagi yang menggunakan ruyah, maka tanggal 9 dan 10 Muharramnya adalah Sabtu dan Ahad, 30 September dan 1 Oktober 2017.

 

Muhammad Asad Mahmud, Lc

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Khoirot Tengaran

 

 

 

Versi cetak

Berita Terkait


Pesan Singkat (shoutbox)

Statistik Website

    Visitors :259897 Visitor
    Hits :735537 hits
    Month :1148 Users
    Today : 151 Users
    Online : 2 Users

YPI Sabilul Khoirot bertekad menyelenggarakan pendidikan yang Profesional dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam. Mencetak generasi Cerdas yang Berakhlaqul Karimah. Menyelenggarakan Usaha produktif. Serta mewujudkan lembaga pendidikan yang memiliki jaringan regional, nasional dan global.